Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal secara terus-menerus (≥140/90 mmHg). Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, dan komplikasi serius lainnya. Karena itu, banyak penderita hipertensi mencari terapi pendamping selain obat medis, salah satunya adalah bekam.
Bekam, yang dalam literatur internasional dikenal sebagai cupping therapy, termasuk terapi komplementer yang dilakukan dengan menciptakan tekanan negatif pada permukaan kulit menggunakan alat khusus (cup). Pada metode bekam basah, dilakukan sayatan ringan sebelum darah dikeluarkan. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa terapi ini memiliki potensi membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Bagaimana Bekam Bekerja dalam Kasus Hipertensi?
1. Membantu Relaksasi Sistem Saraf
Pada penderita hipertensi, sistem saraf simpatik sering kali bekerja lebih aktif sehingga pembuluh darah menjadi lebih tegang dan menyempit. Bekam diduga membantu menstimulasi respons relaksasi tubuh, sehingga aktivitas saraf simpatik menurun. Ketika pembuluh darah menjadi lebih rileks, tekanan darah pun dapat berkurang.
2. Memicu Pelebaran Pembuluh Darah (Vasodilatasi)
Proses bekam dapat merangsang pelepasan beberapa zat biologis seperti histamin, serotonin, dan endorfin. Zat-zat ini berperan dalam memperlebar pembuluh darah kecil (vasodilatasi). Pelebaran tersebut menurunkan hambatan aliran darah di arteri, sehingga tekanan darah cenderung turun setelah terapi.
3. Memperbaiki Sirkulasi Mikro
Tekanan negatif dari cup membantu meningkatkan aliran darah lokal dan memperbaiki sirkulasi mikro. Sirkulasi yang lebih lancar dapat membantu distribusi oksigen dan nutrisi menjadi lebih optimal, sekaligus mendukung keseimbangan sistem kardiovaskular.
4. Mengurangi Stres dan Kecemasan
Faktor psikologis seperti stres dan kecemasan dapat memperburuk hipertensi. Beberapa studi melaporkan bahwa bekam memberikan efek relaksasi dan rasa nyaman setelah terapi. Efek ini turut berkontribusi pada penurunan tekanan darah, terutama pada pasien yang tekanan darahnya dipengaruhi oleh stres.
Baca juga : Apakah Bekam Boleh Dilakukan Saat Puasa Ramadan?
Apa Kata Penelitian?
Beberapa penelitian eksperimental dan observasional menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah terapi bekam. Pada sebagian studi, terjadi penurunan tekanan darah yang cukup signifikan setelah satu atau beberapa sesi terapi. Namun demikian, efek ini umumnya bersifat pendukung dan bukan pengganti pengobatan utama.
Hingga saat ini, bekam lebih direkomendasikan sebagai terapi komplementer, bukan terapi tunggal untuk mengendalikan hipertensi jangka panjang.
Apakah Bekam Bisa Menggantikan Obat Hipertensi?
Jawabannya: tidak.
Terapi bekam tidak dimaksudkan untuk menggantikan obat antihipertensi yang diresepkan dokter. Pengobatan medis tetap menjadi pilar utama dalam pengelolaan hipertensi. Bekam dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping, terutama jika dilakukan di bawah pengawasan tenaga kesehatan yang kompeten.
Hal yang Perlu Diperhatikan
Sebelum menjalani bekam, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan:
-
Pastikan dilakukan oleh terapis yang terlatih dan memahami prosedur steril.
-
Hindari bekam jika memiliki gangguan pembekuan darah atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah tanpa konsultasi dokter.
-
Konsultasikan terlebih dahulu jika memiliki komplikasi jantung atau penyakit kronis lainnya.
Kesimpulan
Bekam memiliki potensi membantu menurunkan tekanan darah melalui mekanisme relaksasi sistem saraf, pelebaran pembuluh darah, serta perbaikan sirkulasi. Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang positif, meskipun terapi ini tetap bersifat komplementer.
Dalam manajemen hipertensi, pendekatan terbaik tetaplah kombinasi antara pengobatan medis, perubahan gaya hidup sehat, pengelolaan stres, dan terapi pendukung yang dilakukan secara bijak.
