1. Bekam dalam Hadits Rasulullah SAW
Bekam (hijamah) termasuk metode pengobatan yang secara tegas dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa riwayat shahih disebutkan bahwa bekam termasuk pengobatan terbaik yang dikenal manusia.
Dalam hadits riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jika terdapat kebaikan dalam metode pengobatan, maka di antaranya terdapat pada bekam, madu, dan kay (pengobatan dengan besi panas), meskipun beliau tidak menyukai metode kay.
Bekam juga termasuk bagian dari konsep Tibb an-Nabawi, yaitu kumpulan tuntunan kesehatan dan pengobatan yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW.
Dari sisi keagamaan, anjuran ini menunjukkan bahwa bekam bukan sekadar terapi tradisional, tetapi memiliki nilai sunnah dan hikmah kesehatan yang dalam.
2. Mengapa Disebut “Pengobatan Terbaik”?
Sebutan “terbaik” dalam konteks hadits tidak selalu berarti satu-satunya atau paling unggul secara mutlak, tetapi mengandung makna:
- Aman dan minim efek samping jika dilakukan dengan benar
- Memberikan manfaat luas bagi berbagai kondisi
- Sesuai dengan fitrah dan mekanisme alami tubuh
- Mudah dilakukan serta terjangkau
Rasulullah SAW sendiri pernah menjalani bekam, yang menunjukkan bahwa praktik ini bukan hanya teori, melainkan pengalaman langsung.
3. Penjelasan Medis Tentang Bekam
Secara medis, bekam—khususnya bekam basah (wet cupping)—bekerja melalui mekanisme tekanan negatif pada permukaan kulit.
a. Mekanisme Fisiologis
Saat kop ditempelkan dan diberikan tekanan vakum:
- Terjadi peningkatan aliran darah lokal
- Pembuluh kapiler melebar
- Otot yang tegang menjadi lebih relaks
- Sirkulasi mikro membaik
Pada bekam basah, sayatan ringan memungkinkan keluarnya sebagian darah yang mengandung mediator inflamasi dan produk sisa metabolisme.
Beberapa teori medis menyebutkan bahwa proses ini dapat membantu:
- Mengurangi peradangan
- Menurunkan nyeri
- Memperbaiki mikrosirkulasi
- Meningkatkan respons imun
4. Temuan Ilmiah Modern
Sejumlah penelitian ilmiah telah mencoba mengkaji efek bekam secara objektif.
Beberapa studi yang dipublikasikan di jurnal medis internasional menunjukkan bahwa bekam basah dapat:
- Menurunkan kadar ferritin pada pasien dengan kelebihan zat besi
- Mengurangi stres oksidatif
- Meningkatkan kapasitas antioksidan tubuh
- Memberikan efek imunomodulator (regulasi sistem imun)
Penelitian lain juga mengkaji efek bekam terhadap:
- Nyeri punggung kronis
- Migrain
- Hipertensi
- Gangguan muskuloskeletal
Walaupun sebagian hasil menunjukkan manfaat, komunitas medis masih menekankan perlunya penelitian berskala besar dengan metodologi yang lebih kuat.
Artinya, bekam memiliki potensi ilmiah yang menjanjikan, namun tetap harus diposisikan sebagai terapi komplementer, bukan pengganti pengobatan medis utama.
5. Sinkronisasi Antara Sunnah dan Sains
Jika ditinjau secara mendalam, terdapat titik temu antara tuntunan Rasulullah SAW dan prinsip fisiologi modern:
- Islam menganjurkan menjaga keseimbangan tubuh
- Bekam membantu regulasi sirkulasi dan inflamasi
- Konsep pengeluaran zat berlebih selaras dengan teori detoksifikasi biologis tertentu
Hal ini menunjukkan bahwa anjuran bekam dalam sunnah bukan tanpa hikmah, melainkan memiliki dimensi kesehatan yang dapat dipahami melalui ilmu kedokteran.
6. Catatan Penting
Meskipun memiliki dasar sunnah dan didukung beberapa penelitian:
- Bekam harus dilakukan oleh terapis terlatih
- Prosedur steril wajib diterapkan
- Pasien dengan kondisi tertentu perlu konsultasi medis terlebih dahulu
Kesalahan teknik dapat menimbulkan risiko seperti infeksi atau luka.
Kesimpulan
Bekam disebut sebagai pengobatan terbaik menurut Rasulullah SAW karena:
- Dianjurkan secara langsung dalam hadits shahih
- Dipraktikkan oleh Nabi sendiri
- Memberikan manfaat luas bagi kesehatan
- Selaras dengan prinsip fisiologi tubuh manusia
Secara medis, bekam memiliki mekanisme yang dapat dijelaskan melalui peningkatan sirkulasi, pengurangan inflamasi, serta kemungkinan efek imunologis.
Dengan demikian, bekam bukan hanya praktik tradisional, tetapi terapi yang memiliki dasar religius dan potensi ilmiah—selama dilakukan dengan standar keamanan yang tepat.
